Karang masih rusak, kapal Ocean Princess dilarang tinggalkan NTT

Kupang (ANTARA News) – Kapal tanker Ocean Princess yang karam di perairan laut Kabupaten Alor,  dilarang meninggalkan wilayah perairan laut Nusa Tenggara Timur (NTT) sampai menyerahkan surat jaminan (Letter of Undertracking/LoU) mengatasi kerusakan karang.

“Belum boleh. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalahabi untuk tidak mengeluarkan surat izin berlayar (SIB),” kata Ketua Tim Valuasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT Saleh Goro kepada Antara di Kupang, Sabtu.

Menurut dia, KSOP dapat menerbitkan SIB, jika pihak perusahan pemilik kapal tanker itu telah menerbitkan surat jaminan.

“Kami mengharapkan kepada pihak KSOP untuk tidak menerbitkan SIB bagi kapal ini hingga adanya surat jaminan dan surat pemberitaan dari DKP Provinsi NTT,” kata Saleh.

Dia menjelaskan LoU itu sebagai bentuk jaminan pihak perusahaan terhadap kerusakan biota laut di wilayah perairan Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar dan laut sekitarnya akibat kapal karam.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan tim valuasi menunjukkan bahwa karang di perairan laut SAP Selat Pantar dan laut sekitarnya mengalami kerusakan parah akibat kandasnya kapal tanker Ocean Princess di perairan pesisir Desa Aemoli, Kabupaten Alor.

Selain itu, terdapat sekitar 28 spot karang yang hancur serta satu hamparan dengan ukuran 163×73 centimeter (cm) karang yang tidak bisa dikenali.

“Ada 28 spot karang yang hancur, terdiri dari 19 spot karang massive (padat) dan tujuh spot karang bercabang,” katanya.

Karang massive ini, masa pertumbuhannya 1 sampai dengan 2 cm per tahun. Hasil investigasi lain adalah koloni karang yang rusak berdiameter 10 s.d. 130 cm. 

“Dalam hubungan dengan itu, maka DKP NTT memandang perlu meminta KSOP Kalabahi untuk tidak menerbitkan SIB untuk kapal Ocean Princess, sebelum ada jaminan dari pihak perusahan,” kata Saleh.

Baca juga: Kapal “Ocean Princess” karam di Alor-NTT sudah ditarik

Baca juga: Kapal Tanker Ocean Princess rusak biota laut Selat Pandar

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019