Satu pekerja ditemukan tewas diterkam harimau di Tambling

Jakarta (ANTARA News) – Seorang karyawan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) ditemukan tewas dengan luka bekas serangan harimau pada Selasa (15/1). 

Penanggung jawab TWNC Teguh Wardoyo dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan korban yang berinisial EP (40) tahun ditemukan meninggal dengan bekas luka di tengkuk dan bagian tubuh lainnya di Kawasan Konservasi TWNC, pesisir barat Lampung. 

Menurut hasil penyelidikan di area korban diserang, menurut Teguh, ditemukan banyak jejak harimau seperti cakaran di pohon dan tanah, menandakan area itu merupakan teritori harimau. 

“Korban sudah diingatkan jangan berjalan sendiri namun tidak peduli,” kata Teguh.

EP diperkirakan diserang harimau pada Senin (14/1). 

Staf ahli konservasi TWNC Risgianto mengatakan jika dilihat dari ukuran dan komposisi jejak kaki, dugaan sementara yang menyerang EP adalah harimau sumatera jantan dewasa. 

Untuk memastikan dugaan tersebut, ia mengatakan, tim TWNC telah memasang camera trap di tiga titik strategis, salah satunya di titik ditemukannya korban. 

“Jika dilihat dari kondisinya, lokasi ditemukan korban adalah sarang atau tempat beristirahat harimau karena tempatnya bersih dan ada tanda cakaran di pohon (lama dan baru) dan tanda berupa jejak,” kata Risgianto.

Teguh mengatakan TWNC turut berduka cita atas meninggalnya EP, warga Dusun Pengekahan.

Ahli waris korban, menurut dia, sudah menyatakan ikhlas menerima bahwa kejadian itu murni musibah yang terjadi karena kerabat mereka tidak mematuhi standar operasional prosedur yang sudah ditetapkan.

TWNC, menurut dia, sudah membuat peraturan yang antara lain melarang karyawan melintas pada jam-jam harimau atau satwa liar lainnya hilir mudik di koridor satwa.

Aturan itu, menurut dia, bukan ditujukan untuk mempersulit warga maupun karyawan, tetapi semata-mata untuk kebaikan dan keselamatan pengguna jalur lintas Pekon Tampang Tua ke Pengekahan.

“Kami meminta kepada warga untuk selalu waspada terjadinya konflik susulan. Terutama warga yang tinggal atau memiliki kebun dekat kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) tersebut,” ujar dia. 

Ia menegaskan karyawan atau warga hendaknya tidak keluar di jam-jam aktif harimau atau satwa liar lainnya melintas di koridor satwa, atau berjalan sendiri saat melintasi area tersebut serta menimbulkan suara gaduh.

Menurut Teguh peristiwa Senin merupakan kejadian pertama harimau sumatera menyerang manusia di TWNC.

Konflik dengan satwa sudah diperkirakan terjadi sejak pos-pos keamanan di lima lokasi di kawasan TNBBS jadi sasaran pembakaran pada 2014 dan pencurian kamera pengawas beberapa dalam tahun terakhir yang mengganggu sistem keamanan dan monitoring satwa-satwa liar.
 

Baca juga:
Mengantar harimau sumatera ke rumah baru
Puisi untuk sang raja hutan

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019